Saturday, December 15, 2012

Intermezzo: Ya ampun!

Sudah lama tidak ngeblog, karena kesibukan dan kemalasan tingkat tinggi, saya kembali lagi. Kali ini dengan yang ringan-ringan dulu, ya.



Wanda dan Sylvia sedang mengobrol di akhirat. "Sylvia, bagaimana kamu mati?" tanya Wanda.

"Aku mati kedinginan," jawab Sylvia.

"Aduh, pasti menakutkan sekali!" seru Wanda.

"Ah, nggak juga," timpal Sylvia. "Setelah tubuhku berhenti menggigil kedinginan, aku mulai merasa tubuhku menghangat dan mengantuk, lalu akhirnya meninggal dengan tenang. Kalau kamu bagaimana?"

"Aku mati karena serangan jantung," jawab Wanda. "Aku curiga kalau suamiku berselingkuh, maka suatu hari aku pulang lebih awal untuk memergokinya. Tapi ternyata dia sedang sendirian menonton televisi di ruang kerjanya."

"Terus apa yang terjadi?"

"Aku yakin banget ada wanita lain di dalam rumahku, makanya aku mulai berlari-larian ke segala penjuru rumah mencari-cari, aku naik ke loteng, turun ke ruang bawah tanah, membongkar-bongkar semua lemari dan memeriksa semua kolong tempat tidur. Tanpa sadar aku kecapekan dan tiba-tiba saja terkena serangan jantung lalu meninggal."

"Ya ampun, Wanda!" seru Sylvia. "Kenapa kamu nggak memeriksa freezer-mu? Coba begitu, kita berdua pasti masih hidup sekarang!"


Cerita asli:"Double Demise"
Reader's Digest Indonesia, Desember 2012

Gambar: http://emperiumfreak.blogspot.com/2009/10/its-freezing-cold-today-when-i-woke-up.html

Tuesday, June 5, 2012

Terapkan Mentalitas Kelimpahan

Diterjemahkan sesukanya dari buku "SIMPLIFY and Live the Good Life" karya Bo Sanchez

Langkah ketiga adalah menerapkan mentalitas kelimpahan. Apa itu? Percayalah bahwa ada cukup uang tersedia di luar sana!

Beberapa orang terjebak dalam mentalitas "kekurangan". 

Mereka berpikir bahwa kita harus jadi orang yang licik, yang tidak jujur, yang bersaing secara tidak sehat, yang bersedia menghalalkan segala cara, supaya mendapatkan sejumlah kecil uang yang berseliweran begitu cepat di sekeliling kita sampai-sampai teramat susah untuk menangkapnya.

Itu sama sekali tidak benar. 

Tuhan telah menciptakan sebuah dunia yang luas, cukup luas untuk setiap orang yang tinggal di dalamnya.

Hasilkan uang dengan menerapkan mentalitas kelimpahan. Pandanglah sekelilingmu, dan lihatlah bahwa kesempatanmu untuk menghasilkan uang ada di mana-mana. Dan kesempatan itu amat sangat besar! Memang sih, supaya bisa melihatnya, kamu harus melatih pikiranmu untuk berkeyakinan bahwa memang ada kesempatan-kesempatan itu di luar sana. Jika kamu percaya bahwa tidak ada atau cuma ada sangat sedikit kesempatan buatmu, maka kamu akan sangat kesulitan menemukannya. Karena pikiranmu akan mulai mencari hal-hal yang membenarkan apa yang kaupercayai.

Jadi, ubahlah ekspektasimu. Pikirkan tentang suatu kelimpahan.

Iseng-iseng, selama suatu liburan musim panas, aku mendaftarkan anak-anak asuhku yang tinggal di panti asuhan ke sebuah kursus kejuruan di sebuah sekolah negeri. Kursus itu cukup singkat, cuma berlangsung selama 3 minggu. Pilihan kursusnya banyak, tapi anak-anak perempuanku memilih kursus kosmetik, dan seorang anak lelaki memilih kursus teknisi AC. Mereka masih harus bersekolah biasa seusai liburan, jadi mereka tidak belajar di sini supaya bisa bekerja, hanya untuk memperluas pengetahuan mereka saja. Tapi aku kagum dengan kerja keras dan komitmen sekolah kecil ini: setelah kelulusan, mereka membantu murid-muridnya untuk mendapatkan pekerjaan. Anak-anakku akhirnya punya teman-teman sekelas yang sudah mendapatkan pekerjaan dan menghasilkan uang sendiri bahkan sebelum lulus dari kursus singkat ini.

Kondisi yang sangat bertolak belakang aku lihat saat kami berjalan pulang ke rumah dan melewati perkampungan miskin di dekat panti asuhan tempat anak-anakku tinggal. Aku melihat pemandangan menyedihkan yang aku lihat setiap hari: orang-orang pengangguran duduk di depan rumah tripleks mereka, tak melakukan apa pun kecuali mengobrol dan merokok. Aku ingat pernah bertanya kepada beberapa dari mereka, "Kenapa kau tidak melamar pekerjaan?" dan mereka akan menjawab, "Aku tidak lulus sekolah." Ketika aku mendorong mereka untuk belajar sesuatu--apapun itu--mereka bilang bahwa mereka tidak punya uang, tidak punya waktu, tidak punya nyali....

Padahal, kenyataannya mereka terjebak dalam mentalitas kekurangan. Mereka meyakini bahwa orang-orang kaya telah menguasai seluruh kekayaan di dunia ini, dan mereka hanya bisa mengumpulkan remah-remah yang terjatuh dari meja makan orang-orang kaya itu.

Itu tidak benar.

Uang ada di mana-mana. Tersedia untukmu dan kita semua.

Terapkan mentalitas kelimpahan.

Aku percaya bahwa Tuhan telah mencukupi untuk kebutuhan kita, bahkan lebih dari cukup supaya kita lebih murah hati, jika kita percaya, dan mulai bekerja.



Friday, May 25, 2012

Murnikan Motifmu Dalam Menghasilkan Uang

(Diterjemahkan asal-asalan dari buku SIMPLIFY And Live the Good Life karya Bo Sanchez)


Setelah memurnikan pandanganmu terhadap uang, langkah berikutnya untuk menghasilkan uang adalah memurnikan motifmu. Jika kamu ingin hidup merdeka dan bahagia, motif atau alasan-alasanmu dalam menghasilkan uang harus benar-benar murni, harus datang dari hati nuranimu.

Tanyakan pada dirimu sendiri: Mengapa kamu menginginkan lebih banyak uang?

Untuk mencukupi kebutuhan pokok keluargamu?

Untuk melaksanakan kewajiban yang diberikan Tuhan selaku pasangan dan orang tua?

Untuk lebih banyak berderma kepada sesama yang membutuhkan?

Untuk memiliki kebebasan pribadi dalam mewujudkan cinta pada orang lain?

Bila motif-motifmu dalam menghasilkan uang sejalan dengan hati nuranimu, dengan nilai-nilai kehidupan utama yang kauanut, maka kamu akan melakukan segala ikhtiarmu dalam mencari uang sebagai sosok manusia yang utuh. Kamu akan bergerak, berjalan, dan berbicara dengan penuh integritas. Dengan penuh kedamaian dan kebahagiaan! Perjuanganmu akan menyenangkan, karena hatimu ada di sana.

Namun, jika motifmu bertentangan dengan hati nuranimu atau nilai-nilai utama yang kauanut, kamu akan bekerja mencari uang sebagai pribadi yang terpecah. Jika alasanmu mencari lebih banyak uang adalah semata-mata untuk menumpuk kekayaan secara egois, atau hal-hal dangkal seperti penghormatan dari orang lain, status sosial di lingkungan masyarakat, dsb., hati nuranimu akan memberontak, dan kamu akan mengalami kehilangan integritas--suatu perpecahan dalam karaktermu. Kamu bisa saja mencapai target finansialmu, tapi kamu tidak akan merasakan kedamaian di dalam hatimu.

Solusinya?

Turuti hati nuranimu, dan ubahlah motifmu supaya sesuai dengannya.

Hasilkan uang dengan kemurnian hati. Dapatkan kekayaan tanpa membuat jiwamu kering.

Murnikan motifmu dalam menghasilkan uang.

Thursday, May 24, 2012

Murnikan Pemikiranmu Terhadap Uang

(Diterjemahkan asal-asalan dari buku SIMPLIFY And Live the Good Life karya Bo Sanchez)


Langkah pertama untuk menghasilkan uang adalah memurnikan pemikiranmu terhadap uang.

Jika di suatu tempat dalam otakmu kamu berpikir bahwa uang itu jahat, sehingga mencari uang adalah tindakan yang tidak spiritual, secara tak sadar kamu akan menemukan cara-cara untuk menghindari uang.

Ini benar! Bahkan Kitab Suci tidak pernah mengatakan bahwa uang itu jahat. Kecintaan terhadap uang, itulah yang jahat. Uang sendiri sifatnya netral, bisa kamu pakai untuk membenci ataupun mencintai, untuk membangun ataupun menghancurkan, tergantung caramu menggunakannya. Dengan kata lain, seperti kebanyakan hal lain di dunia, uang bisa membuatmu baik, dan bisa juga membuatmu jahat. Semuanya bergantung pada apakah kamu menaati atau melanggar hukum-hukum yang tertulis di alam semesta ini tentangnya.

Murnikan pemikiranmu terhadap uang dengan menyadari bahwa Tuhan menghendaki kita untuk memiliki materi supaya kita bisa hidup selayaknya seorang manusia, cukup untuk kebutuhan kita, dan lebih dari yang kita butuhkan supaya kita bisa berderma kepada orang lain.

Yakinlah bahwa Sang Pencipta ingin mencukupi kebutuhanmu. Yakinlah bahwa untuk itu Tuhan ingin dirimu bekerja dan bertanggung jawab atas keluargamu.

Selain itu, penting juga untuk melihat sikapmu terhadap mereka yang berpenghasilan bagus. Apakah kamu membenci mereka? Apakah kamu merasa bahwa mereka materialistis dan tidak spiritual? Apakah kamu curiga mereka menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan sejumlah uang yang mereka miliki? Jika kamu terus-terusan berpikir begitu, sama saja dengan kamu meyakinkan dirimu sendiri bahwa uang itu jahat, materialistis, dan hanya bisa didapatkan dengan cara-cara yang tidak halal.

Singkirkan pemikiran-pemikiran itu. Murnikan pemikiranmu terhadap uang.


Wednesday, May 23, 2012

Hasilkan Uang!

(Diterjemahkan asal-asalan dari buku SIMPLIFY And Live the Good Life karya Bo Sanchez)


Mungkin kamu bingung apa hubungannya post ini dengan hidup sederhana. Sepertinya ada sesuatu yang kontradiktif di sini.

Aku menerima ribuan surat dari para pembacaku, kebanyakan dari mereka mengungkapkan kebahagiaan yang mereka rasakan. Tapi beberapa sungguh menyedihkan. 

Kemarin, aku membaca sebuah surat dari seorang pria yang hidup miskin sepanjang hayatnya. Dia bahkan tidak bisa memikirkan bagaimana cara menghidupi keluarganya lebih lama daripada seminggu. Tentu saja dia punya pekerjaan, tapi mereka menggajinya terlalu rendah, sampai-sampai tidak cukup untuk menyekolahkan anak-anaknya. 

Aku membaca surat yang lain dari seorang wanita yang utangnya begitu banyak, sampai-sampai tagihan bulanannya dua kali lebih besar daripada uang yang dihasilkannya. Dan menurut dia, dia sudah hidup amat sangat sederhana! Tidak ada yang bisa disederhanakan lagi! Dia bilang, sudah bertahun-tahun dia tidak membeli pakaian baru, tidak lagi pergi ke bioskop kecuali ada yang mentraktirnya, dan telah menjual sebagian miliknya untuk hidup sehari-hari.

Perhatikanlah. Tidak memiliki cukup uang untuk kebutuhan sehari-hari bukanlah hidup sederhana. Itu namanya kemiskinan, dan kemiskinan memperumit hidup.

Bacalah pelan-pelan. Uang bukanlah segala-galanya, dan sangatlah keliru jika orang menganggap bahwa uang bisa menyelesaikan segala permasalahan mereka dan membuat hidup mereka bahagia. Tapi kita benar-benar perlu sejumlah uang supaya tetap hidup. Karena surat-surat seperti tadilah aku ingin membagikan sekarang enam prinsip utama dalam menghasilkan uang--tentu saja, menghasilkan uang tanpa membuat jiwamu kering....

Pada enam post berikutnya kita akan memahami enam prinsip utama dalam menghasilkan uang. Prinsip-prinsip itu adalah:

1. Murnikan pemikiranmu terhadap uang.
2. Murnikan motifmu dalam menghasilkan uang.
3. Terapkan Mentalitas Kelimpahan.
4. Percayalah pada kapasitasmu untuk menghasilkan uang.
5. Buatlah dirimu lebih berharga.
6. Temukan milikmu yang dibutuhkan oleh orang lain.

Simpelkan hidupmu. Hasilkan uang.

Saturday, May 12, 2012

Penumpang Yang Tak Terlupakan

Oleh Kent Nerburn


Lima belas tahun lalu, aku mencari nafkah sebagai seorang sopir taksi.

Aku menjalani kehidupan layaknya seorang koboi, kehidupan seorang pejudi, kehidupan seseorang yang tak mau diperintah-perintah atasan, selalu berpindah-pindah, dan penuh gairah ketika seorang penumpang baru memasuki taksi.

Yang sama sekali tak pernah kuperhitungkan adalah bahwa pekerjaan inilah yang akhirnya mengubah hidupku.

Karena aku bekerja pada shift malam, taksiku menjadi semacam kamar pengakuan berjalan. Penumpang-penumpang itu menyeruak masuk dan duduk di belakangku dengan anonimitas total kemudian mulai menceritakan kehidupan mereka.

Kami ini--aku dan penumpangku--seperti dua orang asing yang duduk di bangku kereta, meluncur melintasi malam, mengungkapkan kedekatan yang tak mungkin terbayangkan akan terkuak di tengah terang benderangnya hari. Aku berjumpa dengan orang-orang yang kehidupannya membuatku takjub, bersemangat, membuatku tertawa, dan menangis.

Tapi tak ada yang lebih menyentuhku daripada kehidupan seorang wanita tua yang aku jemput di tengah pekatnya suatu malam di bulan Agustus.

Aku memenuhi panggilan dari sebuah bangunan kecil berdinding bata yang terletak di suatu daerah sepi di kotaku. Aku pikir pasti aku disuruh menjemput beberapa pemabuk, atau seseorang yang habis bertengkar dengan pasangannya, atau seseorang yang berangkat bekerja shift awal ke sebuah pabrik di kawasan industri.

Ketika aku tiba di sana, bangunan itu gelap gulita. Satu-satunya sumber cahaya adalah nyala bola lampu yang nampak dari sebuah jendela di lantai dasar.

Dalam kondisi seperti ini, biasanya sopir taksi akan membunyikan klakson sekali atau dua kali, menunggu sebentar, lalu pergi. Terlalu banyak kemungkinan buruk yang bisa terjadi jika seorang sopir memutuskan untuk keluar dari taksinya dan mendatangi sebuah bangunan yang gelap gulita pada jam 2.30 malam.

Tapi aku sudah menyaksikan begitu banyak orang tak mampu yang bergantung pada taksi sebagai satu-satunya sarana transportasi mereka malam-malam begini.

Jadi kecuali jika aku benar-benar mencium adanya ancaman bahaya, aku selalu menghampiri pintu untuk menjemput penumpangku, karena bisa jadi dia membutuhkan bantuanku. Tidakkah aku juga menginginkan seorang sopir taksi melakukan hal yang sama kepada ibu atau ayahku dalam situasi seperti ini?

Maka aku berjalan ke pintu rumah itu dan mengetuknya.

"Tunggu sebentar," sebuah suara yang lemah dan renta menjawab ketukanku. Sesaat kemudian kudengar sesuatu sedang diseret di atas lantai.

Setelah agak lama, pintu pun terbuka. Seorang wanita mungil berusia 80 tahunan berdiri di hadapanku. Dia mengenakan baju cita dan topi kecil berbentuk peci dengan kerudung yang menutupi sedikit mukanya, seperti wanita-wanita yang kaulihat di film-film tahun 1940-an. Di sebelahnya terlihat sebuah koper kecil dari bahan nilon. Bunyi yang kudengar tadi pasti gesekan koper itu dengan lantai saat dia sedang menyeretnya.

Apartemen itu sendiri tampak seperti sudah lama tak didiami. Seluruh perabotannya ditutupi kain. Tidak ada jam dinding. Tidak ada pernak-pernik atau perkakas apa pun di atas meja pajangan. Di pojok ruangan ada sebuah kardus karton yang penuh dengan foto-foto dan barang pecah belah.

"Tolong bawakan koperku ke mobil, ya," pintanya. "Aku ingin ditinggal sejenak sendirian di sini. Lalu kalau kau bersedia, tolong kembalilah dan bantu aku berjalan. Aku tidak terlalu kuat sekarang."

Aku membawa kopernya ke mobil, lalu kembali untuk menjemputnya. Dia menggandeng lenganku, lalu kami berjalan perlahan-lahan ke trotoar, sambil tak henti-hentinya dia mengucapkan terima kasih padaku.

"Tidak apa-apa, Bu," kataku. "Saya cuma berusaha memperlakukan para penumpang saya sebagaimana saya ingin ibu saya diperlakukan."

"Oh, kau benar-benar anak yang baik," ujarnya. Pujian dan penghargaannya hampir-hampir membuatku malu.

Saat kami sudah berada di dalam taksi, dia memberiku sebuah alamat, lalu berkata, "Bisa lewat tengah kota?"

"Itu bukan rute terpendek, Bu," jawabku.

"Tidak masalah. Aku juga tidak terburu-buru," ujarnya. "Aku toh sedang menuju rumah peristirahatanku."

Aku memandang kaca spionku. Matanya berkaca-kaca.

"Aku tak punya keluarga lagi," lanjutnya. "Dokter bilang aku harus tinggal di sana. Katanya, waktuku sudah tidak lama lagi."

Diam-diam aku meraih dan mematikan argometer. "Ibu ingin saya antar lewat mana?" tanyaku.

Maka selama dua jam berikutnya, kami berjalan mengelilingi kota. Dia menunjukkan padaku gedung tempatnya dulu bekerja sebagai operator lift. Kami pergi ke daerah tempat dia dan suaminya tinggal ketika mereka baru saja menikah. Dia memintaku berhenti di depan sebuah gudang mebel yang dulu adalah ballroom tempatnya pergi berdansa ketika masih gadis. Kadang-kadang dia memintaku untuk memperlambat laju kendaraan di depan bangunan-bangunan tertentu dan dia hanya duduk menatap dalam kegelapan, tanpa kata-kata.

Ketika cercah pertama cahaya matahari mulai menerangi langit, tiba-tiba dia berkata, "Aku lelah. Ayo kita pergi sekarang."

Kami pun pergi ke alamat yang sudah diberikannya padaku. Sebuah bangunan rendah, semacam tempat peristirahatan untuk orang-orang yang sedang dalam proses pemulihan setelah sakit, dengan jalan masuk mobil melewati pintu depan dengan pelataran yang berpilar. Dua orang perawat menghampiri taksi begitu kami berhenti. Tanpa menungguku, mereka membuka pintu dan mulai membantu wanita itu. Mereka terlihat cemas dan teliti, mencermati setiap gerakannya. Pasti mereka telah menunggunya, mungkin dia sudah menelepon mereka sebelum kami berangkat.

Aku membuka bagasi dan membawa koper kecil itu ke depan pintu. Wanita itu telah didudukkan di sebuah kursi roda.

"Jadi berapa ongkos taksinya?" tanyanya sambil mengambil dompetnya.

"Tidak usah, Bu," jawabku.

"Tapi itu mata pencaharianmu," desaknya.

"Masih ada penumpang-penumpang yang lain, Bu," jawabku lagi.

Hampir tanpa berpikir, aku membungkuk dan memeluknya. Dia pun mendekapku erat-erat.

"Kau baru saja memberikan sebentuk kebahagiaan kepada seorang wanita tua," katanya. "Terima kasih, Nak."

Tak ada lagi yang bisa terucapkan.

Aku meremas tangannya sekali lagi, lalu berjalan keluar di keremangan pagi. Di belakangku, aku bisa mendengar bunyi pintu ditutup. Bunyi sebuah kehidupan tengah ditutup.

Aku tidak mengambil penumpang lagi pada shift itu. Aku mengemudi tanpa tujuan, tenggelam dalam pikiranku. Sepanjang hari itu, aku hampir-hampir tak bisa bicara.

Bagaimana seandainya wanita itu mendapatkan sopir taksi yang pemarah, yang tak sabar untuk cepat-cepat menyelesaikan shift-nya? Bagaimana bila aku memutuskan untuk tidak menjemputnya, atau cuma mengklakson sekali, lalu pergi? Bagaimana jika suasana hatiku sedang buruk dan menolak untuk diajaknya mengobrol?

Berapa banyakkah saat-saat seperti ini telah kuabaikan atau gagal kupahami sepanjang hidupku?

Kita selalu berpikir bahwa kehidupan kita bergulir dari satu momen besar ke momen besar lainnya. Namun momen-momen besar itu seringkali muncul pada saat yang paling tidak kita duga.

Saat wanita itu mendekapku erat-erat dan berkata bahwa aku telah memberinya sebentuk kebahagiaan, aku percaya bahwa aku dihadirkan di dunia ini untuk satu tujuan mengantarkannya melakukan perjalanan terakhirnya.

Aku tidak yakin pernah melakukan sesuatu yang lebih penting dalam hidupku.


Diterjemahkan asal jadi dari judul asli: The Cab Ride I'll Never Forget
Diadaptasi dari buku Make Me An Instrument of Your Peace


Wednesday, May 2, 2012

Tidak Ada Yang Tahu Bedanya


 
Saya suka mengambil cerita-cerita inspiratif dari blog Paulo Coelho. Simpel. Ringkas. Mengena. Beberapa dia beri judul "10-sec Reading", "20-sec Reading", "1-min Reading", dsb. Biarpun singkat, namun tetap sarat. Sampai-sampai saya pernah berseloroh ke seorang teman, "Seandainya romo-romo itu juga punya '1-min Sermon', ya. Semenit tapi bermakna, daripada setengah jam tapi bikin ngantuk." Cerita di bawah ini mengingatkan saya bahwa keteladanan adalah salah satu ciri kepemimpinan. Selamat membaca. 

 ---

Seorang teman mengisahkan tentang seorang ayah yang membawa kedua anaknya bermain mini-golf. Di loket dia menanyakan harga tiketnya.

“Lima koin untuk orang dewasa, tiga koin untuk anak berusia di atas enam tahun. Di bawah enam tahun gratis,” jawab petugas loket.
“Baiklah. Anakku yang kecil berusia tiga tahun, dan yang besar tujuh tahun. Aku akan membayar untuk anak pertamaku,” ujar sang ayah.

“Anda ini aneh,” seloroh petugas loket itu. “Anda bisa saja menghemat tiga koin seandainya Anda bilang bahwa anak pertama Anda usianya di bawah enam tahun. Saya toh tidak akan tahu perbedaannya.”

Sang ayah tersenyum, lalu berkata, “Mungkin Anda tidak akan tahu perbedaannya, tapi anak-anakku akan tahu kalau ayahnya berbohong. Dan mereka akan mengingat hal ini selamanya sebagai sebuah contoh yang buruk.”


Judul asli: Would Anyone Know the Difference?

Monday, April 30, 2012

10 Kesalahan dalam Menggapai Kebahagiaan

Lagi, dari Daniel Wong, inspirator muda yang blognya--Living Large--telah membantu banyak pelajar, pengajar, dan orang tua untuk memaksimalkan pendidikan, karier, dan kehidupan mereka.


Baru-baru ini aku keluar makan siang bareng empat orang teman.

Obrolan kami pun sampai pada topik berita terpanas hari itu: seorang pria sukses dan terkenal mundur dari jabatan pentingnya pas umurnya masih 40-an. Dia nggak pernah menjelaskan ke media kenapa dia mundur.

Teman-temanku mulai melontarkan dugaan-dugaan mereka tentang alasan mundurnya bapak itu.

"Pasti ada praktik pencucian uang di belakang semua ini!"

"Atau dia ketahuan terlibat sebuah affair."

"Yang jelas aku yakin ada sebuah skandal besar yang belum terkuak di sini."

Sebagai orang yang selalu memandang hal-hal baik dalam diri orang lain (dan juga seorang idealis dari hati!), aku menawarkan sebuah kemungkinan lain, "Mungkin dia mundur dari jabatannya untuk mengejar impiannya."

Tanggapan seia-sekata dari teman-temanku sungguh tak terlupakan!

"Impian? Impian apa lagi? Orang itu ya, kalau umurnya udah 40-an, udah nggak punya impian apa-apa lagi!"

Orang yang sudah berusia 40 tahun nggak punya impian apa-apa lagi.

Bener nggak, sih?!


-------

Obrolan makan siang itu membuat aku merenung tentang apa artinya mengejar impian. Atau lebih luas lagi, aku jadi merenung tentang apa artinya menggapai kebahagiaan. 

Biar lebih jelas, kalau aku membahas tentang kebahagiaan, aku nggak membicarakan tentang sebuah perasaan yang temporer. Aku mengacu pada sesuatu yang kamu alami pada tingkat yang jauh lebih dalam, bahkan ketika kamu nggak merasa ceria. Aku berbicara tentang kepuasan jangka panjang.
Berdasarkan definisi kebahagiaan itu, aku perhatikan bahwa kebanyakan orang yang aku jumpai tidak merasa bahagia. Aku sih bukan pakar kebahagiaan, tapi aku mencermati beberapa kesalahan yang dibuat orang-orang dalam perjuangan mereka menggapai kebahagiaan, kesalahan-kesalahan yang mengakibatkan mereka tidak merasa bahagia.

Ini dia daftarku:

Kesalahan #1: Berhentilah mengejar impianmu.
Aku nggak secara idealis bilang bahwa setiap saat adalah waktu yang tepat untuk mengejar impian. Kita semua punya tanggung jawab dan kewajiban yang harus kita penuhi. Tapi itu juga nggak berarti bahwa kita harus menyerah dan melupakan impian kita. Bagaimana pun juga, impianlah yang membuat kita punya semangat hidup. Bahkan jika impian masa kecil kita sudah mati, nggak pernah ada kata terlambat untuk mengimpikan sebuah impian baru.

Kesalahan #2: Abaikan orang-orang terdekatmu.
Pada titik tertentu, kita semua sebenarnya sadar bahwa inti kehidupan itu adalah membangun hubungan. Toh karena kesibukan, dengan mudah kita mengabaikan hubungan-hubungan yang paling berarti dalam kehidupan kita. Mari kita ingat-ingat bahwa melakukan ini adalah jalan yang pasti berujung pada ketidakbahagiaan.


Kesalahan #3: Jangan ambil tanggung jawab penuh atas kehidupanmu.
Bertanggung jawab penuh atas kehidupan kita bukan berarti bahwa kita bisa mengendalikan segala hal yang terjadi pada kita, karena nyata-nyata kita nggak bisa melakukannya. Bertanggung jawab penuh atas kehidupan kita berarti bahwa kita menyadari kekuatan kita untuk mengendalikan sikap kita dalam situasi apa pun, nggak peduli seberapa nggak adil atau buruknya kejadian yang kita alami. Ini juga berarti bahwa kita nggak menyalahkan orang lain atas perasaan atau kekecewaan yang kita alami.

Kesalahan #4: Puaskan semua orang.
Kita nggak mungkin jadi segala-galanya bagi semua orang, jadi jangan coba-coba melakukannya. Kemungkinan kegagalannya seratus persen, bahkan kalaupun kita berusaha sekuat tenaga.

Kesalahan #5: Katakan "ya" terlalu sering.
Dalam Good to Great, filsuf bisnis Jim Collins mengamati bahwa musuh "hebat" itu bukannya "buruk". Musuh "hebat" itu "baik". Hampir selalu, keputusan yang buruk sudah memperlihatkan keburukannya dari awal, sehingga kita sama sekali nggak tertarik mengambilnya. Keputusan-keputusan yang baik--hal-hal yang menguntungkan untuk jangka pendek tapi merugikan untuk jangka panjang--inilah yang seringkali mengalihkan perhatian kita saat seharusnya kita mengambil keputusan yang hebat. Kalau kita ingin kebahagiaan, kita perlu dengan sengaja mengorbankan hal-hal menyenangkan yang sifatnya sementara, demi memperoleh hanya yang terbaik. Kita harus bisa mengatakan "tidak" pada semua hal yang baik dan "ya" hanya pada hal-hal yang hebat.

Kesalahan #6: Jangan menerima dirimu apa adanya.
Komitmen untuk terus memperbaiki diri sendiri memang harus terus kita pegang, tapi pada saat yang sama kita juga harus bisa menerima diri kita sendiri apa adanya--talenta, kekuatan, kelemahan, kesalahan, apa pun juga. Kalau kita nggak bisa menerima diri kita apa adanya, akibatnya kita akan punya rasa percaya diri yang rendah dan dihantui rasa inferioritas Gimana mau bahagia kalau minder akut?

Kesalahan #7: Teruslah hidup di masa lalu atau masa depan.
Ternyata hidup di masa lalu itu cukup menggoda, dengan segala penyesalan, kegagalan, dan kesedihan kita. Hidup di masa depan sama menariknya, dengan segala kekhawatiran, ketakutan, dan harap-harap cemas kita. Toh kita harus selalu mengingatkan diri kita untuk hidup sepenuhnya di masa sekarang, karena hanya di masa sekarang inilah kita bisa mengambil tindakan nyata dan menciptakan kesuksesan yang sesungguhnya dalam hidup kita.

Kesalahan #8: Mengeluh aja terus.
Kalau kamu mengeluh, kamu nggak bakalan maju. Satu-satunya tujuan mengeluh adalah untuk membenarkan perasaan-perasaan negatif dan marah yang kamu rasakan. Padahal kita tahu, semakin marah semakin jauh kita dari perasaan bahagia.

Kesalahan #9: Tonton TV banyak-banyak.
Survey menunjukkan bahwa rata-rata orang yang hidup di negara berkembang menonton televisi sekurang-kurangnya 3 jam sehari. Mudah-mudahan statistik itu bikin kamu ketakutan. Aku nggak bilang bahwa nggak ada acara TV yang patut ditonton. Cuma, coba bayangkan hal-hal lain yang bisa kamu lakukan di waktu luangmu. Memang benar sih, TV bisa menginspirasi kita, tapi ke arah yang salah. Banyak acara yang menginspirasikan ketamakan, nafsu, ketakutan, dan kebencian. Jelas-jelas bukan jalan yang benar menuju kebahagiaan.

Kesalahan #10: Ambillah keputusan pas lagi emosi.
Orang yang nggak bahagia biasanya nggak puas pada keadaan mereka, yang seringkali adalah akibat dari pengambilan keputusan yang buruk. Saat kita merasa sedih, marah, takut, atau frustrasi, kita sedang berada pada kondisi mental dan emosional yang tidak tepat untuk mengambil keputusan. Seperti kita sadari, setiap keputusan memiliki konsekuensi. Jadi bilamana mungkin, tundalah sampai perasaan kita tenang dan emosi kita mereda sebelum mengambil keputusan.


Hati-hati, ya. Jangan melakukan kesalahan-kesalahan di atas selagi menggapai kebahagiaanmu. Dunia ini memercayakan dirinya pada orang-orang bahagia, karena merekalah yang mampu membuat perubahan ke arah yang lebih baik.


Diterjemahkan asal-jadi dari  
10 Mistakes Made in the Pursuit of Happiness
oleh Daniel Wong
Gambar dari Google

Sunday, April 29, 2012

Lima Penyesalan

Paulo Coelho membagikan cerita ini dalam blognya, dan mengingatkan saya bahwa hidup yang simpel adalah hidup yang dijalani sesuai dengan apa yang kita yakini.


Bertahun-tahun aku bekerja dalam sebuah pendampingan paliatif. Pasienku adalah orang-orang yang telah dinyatakan secara medis tak bisa disembuhkan dari penyakitnya. Aku berada di tengah-tengah mereka selama tiga sampai dua belas minggu terakhir dalam hidup mereka.

Ketika ditanya tentang penyesalan-penyesalan yang mereka rasakan, atau hal-hal yang ingin mereka ubah di masa lalu, beberapa jawaban umum selalu mengemuka. Inilah lima jawaban yang paling umum:

1. Aku menyesal tak punya cukup nyali untuk menjalani hidup sesuai dengan yang aku yakini, bukan hidup yang orang lain harapkan aku jalani.
Ketika orang menyadari bahwa hidup mereka hampir berakhir, dan menengok kembali ke belakang, sangatlah mudah untuk melihat betapa banyak impian yang berlalu tanpa dijadikan kenyataan. Kebanyakan orang harus meninggal dengan mengetahui bahwa semua ini terjadi karena pilihan yang telah mereka buat, atau yang tidak mereka buat. Pada saat kamu kehilangan kesehatanmu, semuanya sudah terlambat. Kesehatan memberikan sebuah kebebasan, yang jarang sekali kita sadari sampai kita kehilangannya.

2. Seandainya saja dulu aku tidak bekerja terlalu keras.
Penyesalan yang satu ini datang dari setiap pasien priaku. Seluruh pria yang kurawat merasa sangat menyesal telah melewatkan terlalu banyak waktu dalam hidup mereka untuk bekerja, dan mengabaikan hal-hal penting lainnya.

3. Aku menyesal tak punya keberanian untuk mengungkapkan perasaanku.
Banyak orang memendam perasaannya supaya tetap berdamai dengan orang lain. Akibatnya mereka menjalani hidup setengah-setengah, dan tidak pernah menjadi sesuatu yang sebenarnya mampu mereka capai. Padahal banyak penyakit yang berkembang akibaat kepahitan dan dendam yang mereka bawa-bawa seumur hidup mereka.

4. Aku menyesal telah kehilangan teman-temanku.
Seringkali orang tidak menyadari arti kawan-kawan lama sampai minggu-minggu terakhir dalam hidupnya, dan pada saat itu tidaklah mudah untuk melacak keberadaan orang-orang itu. Banyak orang begitu terperangkap dalam kehidupannya sendiri sampai-sampai membiarkan persahabatan yang indah memudar dan berlalu seiring berjalannya waktu. Ada penyesalan yang begitu dalam karena tidak memberikan cukup waktu dan perjuangan untuk mempertahankan persahabatan. Setiap orang selalu merindukan kehadiran teman-teman mereka ketika hidup mereka akan berakhir.

5. Seandainya saja dulu aku membiarkan diriku lebih berbahagia.
Ini suatu hal yang sangat mengejutkan. Banyak orang terlambat menyadari bahwa kebahagiaan adalah sebuah pilihan. Mereka semua terpaku pada rutinitas dan bertahan pada kebiasaan-kebiasaan lama, sesuatu yang disebut "kenyamanan" karena kebiasaan telah merasuki perasaan mereka, dan fisik mereka juga. Ketakutan akan perubahan membuat mereka berpura-pura pada orang lain, dan pada diri sendiri, bahwa mereka sudah cukup puas dengan apa yang ada. Di balik itu, sebenarnya mereka begitu mendambakan bisa tertawa lepas dan mendapatkan kembali keceriaan dalam hidup mereka.


Catatan penerjemah:
 Aku selalu sepakat dengan yang dikumandangkan lantang-lantang oleh Jon Bon Jovi dalam It's My Life, "I just wanna live while I'm alive."

Aku cuma kepingin hidup selagi masih hidup.


Diterjemahkan asal jadi dari "The Five Regrets"

Wednesday, April 25, 2012

Nggak Kenal

Pelatih bulu tangkis itu sedang menyemangati tim asuhannya.

"Apakah Rudy Hartono pernah menyerah?!" serunya kepada mereka.

"Tidak!!!" jawab timnya dengan kompak.

"Apakah Susi Susanti pernah menyerah?!" seru sang pelatih lagi, lebih keras.

"Tidaaak!!" timnya menjawab tak kalah kerasnya.

"Apakah Ismanto Sandjaja pernah menyerah?!" seru pelatih itu lagi.

Hening sejenak. Lalu salah seorang anggota timnya bertanya, "Siapa itu Ismanto Sandjaja?"

Sang pelatih tersenyum, dan menjawab, "Tentu saja kalian nggak kenal, karena dia menyerah."


Inspirasi dari buku "Jangan Mau Jadi Paku, Jadilah Palu!" suntingan Tama Sinulingga

Monday, April 23, 2012

Temukan "Aliran"-mu!

(Dari buku SIMPLIFY And Live the Good Life karya Bo Sanchez)


Berada dalam "aliran" berarti terserap secara tidak sadar. Pikirkan situasi saat dirimu begitu terjebak dalam sebuah aktivitas yang membuat pikiranmu tidak mengembara, yang membuatmu terlupa akan sekelilingmu, dan membuat waktu serasa terbang melayang.... --David Myers


Apakah kesamaan para pencapai yang hebat ini: Mozart, yang mengarang 600 komposisi musik; Thomas Alva Edison yang telah mematenkan 1.093 penemuan; dan Isaac Asimov yang menulis 475 buku? Mereka telah menemukan "aliran" mereka. Apa sih "aliran" itu? Lihatlah gambar di bawah.


Jika tantangan pekerjaanmu besar tapi keahlianmu tidak cukup tinggi, hasilnya adalah kecemasan. Inilah yang terjadi pada seorang salesman baru, yang pingsan setiap kali menghadapi klien. Dia harus segera berganti karier--mungkin menjadi petugas pemeriksa ketebalan kasur di sebuah pabrik dipan--atau segera membekali dirinya dengan pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan keahliannya dalam melakukan penjualan.

Jika tantangan pekerjaanmu kecil dan keahlianmu rendah juga, kamu akan mengalami apatisme. Contohnya adalah seorang akuntan yang tidak tahu bagaimana cara menggunakan kalkulator, tapi tidak merasa khawatir sedikit pun, karena dia bekerja di perusahaan milik ayahnya.

Jika tantangan pekerjaanmu rendah tapi keahlianmu tinggi, kamu akan terjebak dalam kebosanan. Seorang perajin dan tukang kayu yang memiliki kemampuan membangun rumah-rumah yang besar dan bagus akan mengalaminya jika dia bekerja di sebuah perusahaan pembuat peti mati.

Jika tantangan pekerjaanmu besar dan keahlianmu juga sepadan tingginya, maka kamu akan mendapatkan hasil yang terbaik: "aliran"-mu. Saat dirimu bekerja, waktu seolah tidak ada artinya. Kamu asyik dengan dirimu sendiri, kamu merasa seakan-akan terlahir untuk pekerjaanmu, dan jika kamu punya kesempatan untuk mengulang hidupmu kembali, kamu tetap akan memilih profesi yang sama.

Itulah "aliran"-mu. Temukan dia.


Nilailah pekerjaanmu saat ini. Apakah cukup memberimu tantangan? Dan apakah kamu punya cukup keahlian yang sepadan dengan tantangan itu? Jika kamu menemukan ketidaksepadanan, apa yang bisa kamu perbaiki?



(Gambar dari Mihaly Csikszentmihalyi dan Isabella Selega Csikszentmihalyi, "Optimal Experience: Psychological Studies of Flow of Consciousness", sebagaimana dikutip oleh David Myers dalam "The Pursuit of Happiness")
 

Sunday, April 22, 2012

Hubungkan Pekerjaanmu dengan Misi Hidupmu

(Dari buku SIMPLIFY And Live the Good Life karya Bo Sanchez)


Seorang temanku bekerja sebagai teknisi untuk sebuah pengelola gedung. Dia menghabiskan sebagian besar jam kerjanya dengan obeng-obeng, solder, dan palu-palunya. Tapi selepas jam lima sore, sebelum pulang ke rumah, dia selalu mengunjungi "sahabat-sahabat"-nya di sebuah kawasan kumuh di kota itu. Kapan pun dia melihat sekelompok anak jalanan, dia membeli sebongkah roti, duduk bersama mereka di kakilima, lalu bercanda dan bercakap-cakap tentang kehidupan sambil mengudap roti.

Dia memiliki hasrat untuk membantu anak-anak jalanan, sebuah hasrat untuk melihat mereka tumbuh menjadi manusia yang lebih baik daripada kondisi mereka saat ini. Tak perlu waktu yang terlalu lama buat dia untuk menyadari bahwa inilah misi hidupnya. Bisakah dia membuatnya sebagai pekerjaan juga?

Jawabannya adalah ya. Tak lama setelahnya, dia mengundurkan diri dari pekerjaannya. Saat ini, bersama dengan istrinya, temanku menghidupi tujuh belas anak jalanan dalam rumah mereka setiap hari. Dan dengan keahliannya membuat barang-barang, dia membantu mereka belajar banyak keahlian baru juga. Dia menulis sendiri surat-surat penggalangan dana, mendapatkan banyak dukungan dari pribadi-pribadi yang dermawan, dan membantu anak-anak ini bersekolah. Sama seperti buat semua orang lain di dunia ini, buatnya hidup pun kadang-kadang terasa berat. Ada saat-saat ketika keuangan mereka ada di bawah, tapi tidak sedikit pun dia menyesali keputusannya, karena dia menjalankan misi hidupnya.

Aku punya satu orang teman lagi. Profesinya adalah seorang perawat, tapi dia begitu mencintai musik sampai-sampai dia tidur dan terbangun setiap hari dengan keyboard synthesizer dalam pelukannya. Dia merasa bahwa misi hidupnya adalah bermusik dan mengisi jiwa-jiwa sesamanya dengan melodi Tuhan. Solusinya? Dia memutuskan untuk bekerja sebagai perawat pribadi--yang tidak bekerja di rumah sakit--yang bisa memberinya kebebasan untuk bekerja paro waktu sebagai seorang pemusik dalam sebuah organisasi keagamaan, dan bahkan juga untuk mendapatkan sedikit keuntungan dalam bisnis entertainment.

Aku percaya bahwa kita semua diciptakan untuk suatu misi, dan misi itu sudah diperisiapkan untuk kita sebelumnya. Dia cuma sedang menunggu untuk kita jalankan dan kita selesaikian!

Jika kita bisa menghubungkan misi kita dengan pekerjaan kita, kita bisa menjadi orang yang paling berbahagia di planet ini.


Apakah misi hidupmu? Temukan karunia-karunia yang telah diberikan oleh kehidupan padamu. Pikirkanlah bagaimana keahlian dan talenta-talenta itu bisa memberikan sumbangan untuk sebuah dunia yang lebih baik. Pikirkanlah bagaimana mereka bisa membantumu mengangkat kualitas hidup orang banyak. Dan, yang terpenting, pikirkanlah cara-cara untuk mengubahnya menjadi pekerjaanmu.


 Gambar dari Google.

Kerjakan Hal Yang Kamu Sukai, dan Dapatkan Uang Darinya!

(Dari buku SIMPLIFY And Live the Good Life karya Bo Sanchez)

 
Takkan ada kenikmatan hidup tanpa kenikmatan bekerja.—Thomas Aquinas


Kita menghabiskan 60% dari waktu kita (di luar saat tidur) untuk pekerjaan kita. Jadi, kalau kita tidak bisa berbahagia karena pekerjaan kita, artinya 60% hidup kita tidak bahagia!

Untuk membuat hidup kita simpel, kita harus menemukan hal-hal yang kita sukai untuk kita kerjakan, dan mendapatkan uang dari hal-hal tersebut. Kita perlu menemukan “hasrat” kita, dan menghubungkannya dengan pekerjaan kita.

Sebagai seorang penulis, riset-risetku menuntutku membaca ratusan buku dalam setahun. Tapi aku tidak merasakannya sebagai beban, karena aku suka membaca. Bahkan jika pekerjaanku bukan penulis pun, aku tetap akan membaca buku sebanyak itu, karena aku sangat menyukainya. Jangan tertawa, ya… tapi fantasi favoritku adalah menjadi seorang petugas keamanan yang ditugaskan menjaga sebuah pulau terpencil—jadi tidak ada yang bisa aku lakukan kecuali membaca sepanjang hari…

Aku ingat pernah menelepon direktur keuangan kami pada jam sepuluh pagi. Aku bertanya, “Apakah aku mengganggumu sekarang?” Dan dia menjawab, “Becanda kamu, Bo. Aku lagi nyantai sekarang.”

“Nonton TV?” tanyaku lagi, menyelidik.

Nggak, lah…. Aku sedang memeriksa laporan-laporan keuangan organisasi kita.”

Aku nyaris jatuh terduduk di kursiku. “Begitu kaubilang nyantai?”

Dia mengiyakan. Dia merasa benar-benar bahagia dan hidup saat memegang pensil, kalkulator, dan terbenam dalam bertumpuk-tumpuk kertas berisi angka-angka—dan tidak ada yang lain kecuali angka-angka. Inilah “hasrat”-nya, dan adalah sebuah keistimewaan baginya bahwa inilah mata pencahariannya. Tapi aku yakin, seandainya pun dia tidak dibayar, dia akan tetap mau melakukannya.

Lebih dari itu, membuat “hasrat”-mu sebagai pekerjaanmu tidak saja menyenangkan. Bisa jadi inilah cara terbaikmu untuk mencukupi kebutuhanmu dan mendapatkan kelebihannya untuk dibagikan kepada orang lain.

Menurut sebuah studi tentang para miliarder, mayoritas dari mereka menjadi kaya raya bukan karena memiliki suatu ambisi yang besar untuk menjadi kaya, melainkan karena mereka menemukan pekerjaan yang benar-benar mereka cintai dari dalam hati mereka. “Keberuntungan” mereka secara finansial datang dari pengabdian mereka sepenuh hati pada suatu bidang yang benar-benar mereka nikmati. Semesta hormat kepada mereka yang yakin bahwa mereka ada di tempat yang tepat melakukan sesuatu yang tepat….
--Allan Loy Mcginnis, The Balanced Life

Kerjakan hal-hal yang kamu sukai, dan dapatkan uang darinya.


Gambar dari Google.




Haloooo!!!

Seberapa percaya kita pada Tuhan?
 

Seseorang terjatuh ke sebuah sumur yang dalam, dan setelah beberapa meter terjungkir balik, akhirnya dia berhasil meraih seutas akar yang terjulur dari dinding sumur itu. Bagaimana pun, pegangannya pada akar itu semakin melemah, dan dengan putus asa dia pun berteriak, "Haloooo!!! Ada orang di luar sana???"

Tidak ada jawaban.

Dia mendongak dan yang terlihat hanya langit berawan dari bibir sumur itu.

Sekonyong-konyong, dilihatnya awan itu terbelah dan seberkas sinar terang memancar dari sana menembus masuk ke dalam sumur. Dan terdengarlah suara menggelegar, "Aku, Tuhanmu, ada di sini. Lepaskan peganganmu dari akar itu, dan Aku akan menyelamatkanmu."

Orang itu berpikir sejenak, memandang ke dasar sumur yang tak terlihat itu, lalu dengan muka panik kembali berteriak dengan putus asa, "Haloooooooooo!!! Ada orang lain di luar sana???"


Dari: Plato and a Platypus Walk Into a Bar... oleh Thomas Cathcart & Daniel Klein
Gambar dari Google.

Saturday, April 14, 2012

Kejarlah Impian Hidupmu!


(Dari buku SIMPLIFY And Live the Good Life karya Bo Sanchez)


Banyak hal dianggap mustahil, sampai benar-benar dilakukan. --Louis Brandeis



Hidup yang simpel berarti hidup dengan satu tujuan. Tidak dengan beberapa tujuan. Kamu tidak mungkin menghabiskan energimu di mana-mana untuk melakukan hal-hal secara acak dan tak terkoordinasi.

Beberapa tahun yang lalu, aku memutuskan untuk menuliskan visi hidupku. Aku menyisihkan waktu untuk diriku sendiri, berdoa, lalu menuliskan gambaran hidup yang aku inginkan dalam dua puluh tahun ke depan. Aku menulis tentang pekerjaan yang ingin aku lakukan, relasi yang ingin aku perjuangkan, proyek-proyek yang ingin aku buat, anak-anak miskin yang ingin aku bantu, rumah sederhana yang ingin aku tinggali, mobil sederhana yang akan aku kendarai, bahkan juga tentang gambaran diriku sendiri sebagaimana yang aku inginkan. Pada dasarnya aku menuliskan impian-impian hidupku. Dan dokumen itu masih tersimpan rapi di komputerku, dengan nama Impian Hidup Bo.

Aku percaya bahwa aku tidak melakukannya sendirian. Aku menciptakannya bersama-sama dengan sang Pencipta. Aku punya keyakinan yang teguh bahwa Dia terlibat dalam kehidupanku sehari-hari, dan Dia pun mempunyai impian-impian atas hidupku.

Aku juga menyimpulkan misi hidupku dalam satu pernyataan: untuk membagikan kepenuhan hidup bersama dengan orang lain, khususnya dengan mereka yang kekurangan, melalui ceramah, tulisan, persahabatan, dan keluarga. Setiap kali aku membacanya, aku merasakan aliran listrik di sekujur tubuhku!!! 

Sekarang aku bertahan pada misi hidupku itu. Aku tidak mengurus perusahaan, aku tidak melakukan administrasi, aku tidak menjual barang, aku tidak membangun gedung-gedung. Aku cuma berfokus pada tujuan hidupku.

Bagaimana kamu bisa menemukan impian hidupmu?

Pertama, temukan keinginan murni yang ada dalam jiwamu. Karena jauh di dalam lubuk hatimu, kamu pasti menginginkan sesuatu yang akan kauusahakan sekuat tenaga untuk mencapainya, karena inilah proyek hidupmu. Mungkin awalnya tidak begitu jelas, dan bisa jadi perlu bertahun-tahun jatuh bangun untuk bisa melihatnya, namun begitu penglihatan itu sudah menguasai pikiranmu, kamu tidak bakalan berjalan ke mana pun, kecuali mendekat ke arahnya.

Kedua, temukan kekuatan yang telah dikaruniakan kepadamu. Bila kamu diserahi suatu tugas mulia, yakinlah kamu akan mendapatkan kekuatan sebesar tugas itu. Kamu menyadari bahwa semua tempaan, semua cobaan, dan semua pengalaman hidupmu adalah persiapan jalanmu untuk mencapai proyek hidupmu yang sudah menunggu di suatu tempat selama ini.

Ketiga, temukan pintu-pintu kesempatan yang terbuka. Selalu ada pintu kesempatan yang terbuka sebelum kamu mulai melangkah menuju pencapaian impian hidupmu. Terbukalah. Bertekunlah. Dan miliki keyakinan.


Hidup seperti apa yang benar-benar kamu inginkan?

Apakah kamu ingin travelling?
Bertemu dengan orang-orang baru serta berbagi kehidupan dan cinta?
Menjalankan sebuah rumah peristirahatan di tepi pantai?
Mengadopsi dan hidup bersama dua belas anak yatim piatu dalam sebuah rumah yang besar?
Menulis sebuah novel yang akan memberi inspirasi bagi ribuan orang?
Bekerja paro waktu supaya kamu punya lebih banyak kesempatan untuk membantu sesama?
Memulai sebuah bisnis catering kecil-kecilan?
Membangun sebuah cottage milikmu sendiri di sebuah pulau terpencil?
Mendirikan sebuah sekolah?
Menjadi seorang ibu full-time untuk anak-anakmu--dan anak-anak teman-temanmu?

Apa pun itu, kejarlah impian hidupmu!



 Gambar dari Google.

Jangan Bekerja Hanya Untuk Uang

(Dari buku SIMPLIFY And Live the Good Life karya Bo Sanchez)



Banyak orang telah bekerja di bidang yang mereka sukai. Tapi karena mereka memiliki gaya hidup yang menuntut biaya tinggi, akhirnya mereka berpindah karier untuk mendapatkan penghasilan yang lebih tinggi pula, padahal karier baru ini bukanlah sesuatu yang mereka sukai. Ya, mereka memang menjadi lebih kaya, tapi lebih sengsara, karena bekerja hanya untuk uang.

Padahal....

Jika kita menghabiskan uang lebih sedikit, kita bisa bekerja lebih sedikit.

Jika kita bekerja lebih sedikit, kita bisa bermain lebih banyak.

Jika kita bermain lebih banyak, kita bisa menggunakan waktu kita untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Kita memang harus bekerja untuk menghasilkan uang, tapi tidak dengan mengorbankan hal-hal yang kita yakini, orang-orang yang kita sayangi, dan diri kita sendiri. Prinsipnya adalah: Kepuasan bukanlah mendapatkan yang kamu inginkan, melainkan menginginkan apa yang telah kamu dapatkan.

Aku punya teman seorang salesman yang menolak tawaran untuk mengisi sebuah posisi manajerial di perusahaannya. Dia bilang bahwa meskipun dia senang dibayar lebih mahal sebagai seorang manajer, dia tidak bisa membayangkan dirinya bekerja di dalam ruangan, cuma duduk mengatur para salesman bawahannya. Dia merasa itu bukanlah panggilan hidupnya. Karenanya, dia memilih untuk bertahan pada sesuatu yang dia sukai: menjual.

Dia tetap membuat kebutuhan hidupnya simpel, dan cukup puas dengan pekerjaannya.

Dia orang yang sangat berbahagia.

Jangan bekerja hanya untuk uang.


Apakah kamu bahagia dengan pekerjaanmu?
Apa yang paling suka kamu lakukan dalam hidupmu? Apa “gairah”-mu? Bisakah kamu membuat “gairah” itu menjadi mata pencaharianmu?



 Gambar dari Google.