Wednesday, May 2, 2012

Tidak Ada Yang Tahu Bedanya


 
Saya suka mengambil cerita-cerita inspiratif dari blog Paulo Coelho. Simpel. Ringkas. Mengena. Beberapa dia beri judul "10-sec Reading", "20-sec Reading", "1-min Reading", dsb. Biarpun singkat, namun tetap sarat. Sampai-sampai saya pernah berseloroh ke seorang teman, "Seandainya romo-romo itu juga punya '1-min Sermon', ya. Semenit tapi bermakna, daripada setengah jam tapi bikin ngantuk." Cerita di bawah ini mengingatkan saya bahwa keteladanan adalah salah satu ciri kepemimpinan. Selamat membaca. 

 ---

Seorang teman mengisahkan tentang seorang ayah yang membawa kedua anaknya bermain mini-golf. Di loket dia menanyakan harga tiketnya.

“Lima koin untuk orang dewasa, tiga koin untuk anak berusia di atas enam tahun. Di bawah enam tahun gratis,” jawab petugas loket.
“Baiklah. Anakku yang kecil berusia tiga tahun, dan yang besar tujuh tahun. Aku akan membayar untuk anak pertamaku,” ujar sang ayah.

“Anda ini aneh,” seloroh petugas loket itu. “Anda bisa saja menghemat tiga koin seandainya Anda bilang bahwa anak pertama Anda usianya di bawah enam tahun. Saya toh tidak akan tahu perbedaannya.”

Sang ayah tersenyum, lalu berkata, “Mungkin Anda tidak akan tahu perbedaannya, tapi anak-anakku akan tahu kalau ayahnya berbohong. Dan mereka akan mengingat hal ini selamanya sebagai sebuah contoh yang buruk.”


Judul asli: Would Anyone Know the Difference?

Monday, April 30, 2012

10 Kesalahan dalam Menggapai Kebahagiaan

Lagi, dari Daniel Wong, inspirator muda yang blognya--Living Large--telah membantu banyak pelajar, pengajar, dan orang tua untuk memaksimalkan pendidikan, karier, dan kehidupan mereka.


Baru-baru ini aku keluar makan siang bareng empat orang teman.

Obrolan kami pun sampai pada topik berita terpanas hari itu: seorang pria sukses dan terkenal mundur dari jabatan pentingnya pas umurnya masih 40-an. Dia nggak pernah menjelaskan ke media kenapa dia mundur.

Teman-temanku mulai melontarkan dugaan-dugaan mereka tentang alasan mundurnya bapak itu.

"Pasti ada praktik pencucian uang di belakang semua ini!"

"Atau dia ketahuan terlibat sebuah affair."

"Yang jelas aku yakin ada sebuah skandal besar yang belum terkuak di sini."

Sebagai orang yang selalu memandang hal-hal baik dalam diri orang lain (dan juga seorang idealis dari hati!), aku menawarkan sebuah kemungkinan lain, "Mungkin dia mundur dari jabatannya untuk mengejar impiannya."

Tanggapan seia-sekata dari teman-temanku sungguh tak terlupakan!

"Impian? Impian apa lagi? Orang itu ya, kalau umurnya udah 40-an, udah nggak punya impian apa-apa lagi!"

Orang yang sudah berusia 40 tahun nggak punya impian apa-apa lagi.

Bener nggak, sih?!


-------

Obrolan makan siang itu membuat aku merenung tentang apa artinya mengejar impian. Atau lebih luas lagi, aku jadi merenung tentang apa artinya menggapai kebahagiaan. 

Biar lebih jelas, kalau aku membahas tentang kebahagiaan, aku nggak membicarakan tentang sebuah perasaan yang temporer. Aku mengacu pada sesuatu yang kamu alami pada tingkat yang jauh lebih dalam, bahkan ketika kamu nggak merasa ceria. Aku berbicara tentang kepuasan jangka panjang.
Berdasarkan definisi kebahagiaan itu, aku perhatikan bahwa kebanyakan orang yang aku jumpai tidak merasa bahagia. Aku sih bukan pakar kebahagiaan, tapi aku mencermati beberapa kesalahan yang dibuat orang-orang dalam perjuangan mereka menggapai kebahagiaan, kesalahan-kesalahan yang mengakibatkan mereka tidak merasa bahagia.

Ini dia daftarku:

Kesalahan #1: Berhentilah mengejar impianmu.
Aku nggak secara idealis bilang bahwa setiap saat adalah waktu yang tepat untuk mengejar impian. Kita semua punya tanggung jawab dan kewajiban yang harus kita penuhi. Tapi itu juga nggak berarti bahwa kita harus menyerah dan melupakan impian kita. Bagaimana pun juga, impianlah yang membuat kita punya semangat hidup. Bahkan jika impian masa kecil kita sudah mati, nggak pernah ada kata terlambat untuk mengimpikan sebuah impian baru.

Kesalahan #2: Abaikan orang-orang terdekatmu.
Pada titik tertentu, kita semua sebenarnya sadar bahwa inti kehidupan itu adalah membangun hubungan. Toh karena kesibukan, dengan mudah kita mengabaikan hubungan-hubungan yang paling berarti dalam kehidupan kita. Mari kita ingat-ingat bahwa melakukan ini adalah jalan yang pasti berujung pada ketidakbahagiaan.


Kesalahan #3: Jangan ambil tanggung jawab penuh atas kehidupanmu.
Bertanggung jawab penuh atas kehidupan kita bukan berarti bahwa kita bisa mengendalikan segala hal yang terjadi pada kita, karena nyata-nyata kita nggak bisa melakukannya. Bertanggung jawab penuh atas kehidupan kita berarti bahwa kita menyadari kekuatan kita untuk mengendalikan sikap kita dalam situasi apa pun, nggak peduli seberapa nggak adil atau buruknya kejadian yang kita alami. Ini juga berarti bahwa kita nggak menyalahkan orang lain atas perasaan atau kekecewaan yang kita alami.

Kesalahan #4: Puaskan semua orang.
Kita nggak mungkin jadi segala-galanya bagi semua orang, jadi jangan coba-coba melakukannya. Kemungkinan kegagalannya seratus persen, bahkan kalaupun kita berusaha sekuat tenaga.

Kesalahan #5: Katakan "ya" terlalu sering.
Dalam Good to Great, filsuf bisnis Jim Collins mengamati bahwa musuh "hebat" itu bukannya "buruk". Musuh "hebat" itu "baik". Hampir selalu, keputusan yang buruk sudah memperlihatkan keburukannya dari awal, sehingga kita sama sekali nggak tertarik mengambilnya. Keputusan-keputusan yang baik--hal-hal yang menguntungkan untuk jangka pendek tapi merugikan untuk jangka panjang--inilah yang seringkali mengalihkan perhatian kita saat seharusnya kita mengambil keputusan yang hebat. Kalau kita ingin kebahagiaan, kita perlu dengan sengaja mengorbankan hal-hal menyenangkan yang sifatnya sementara, demi memperoleh hanya yang terbaik. Kita harus bisa mengatakan "tidak" pada semua hal yang baik dan "ya" hanya pada hal-hal yang hebat.

Kesalahan #6: Jangan menerima dirimu apa adanya.
Komitmen untuk terus memperbaiki diri sendiri memang harus terus kita pegang, tapi pada saat yang sama kita juga harus bisa menerima diri kita sendiri apa adanya--talenta, kekuatan, kelemahan, kesalahan, apa pun juga. Kalau kita nggak bisa menerima diri kita apa adanya, akibatnya kita akan punya rasa percaya diri yang rendah dan dihantui rasa inferioritas Gimana mau bahagia kalau minder akut?

Kesalahan #7: Teruslah hidup di masa lalu atau masa depan.
Ternyata hidup di masa lalu itu cukup menggoda, dengan segala penyesalan, kegagalan, dan kesedihan kita. Hidup di masa depan sama menariknya, dengan segala kekhawatiran, ketakutan, dan harap-harap cemas kita. Toh kita harus selalu mengingatkan diri kita untuk hidup sepenuhnya di masa sekarang, karena hanya di masa sekarang inilah kita bisa mengambil tindakan nyata dan menciptakan kesuksesan yang sesungguhnya dalam hidup kita.

Kesalahan #8: Mengeluh aja terus.
Kalau kamu mengeluh, kamu nggak bakalan maju. Satu-satunya tujuan mengeluh adalah untuk membenarkan perasaan-perasaan negatif dan marah yang kamu rasakan. Padahal kita tahu, semakin marah semakin jauh kita dari perasaan bahagia.

Kesalahan #9: Tonton TV banyak-banyak.
Survey menunjukkan bahwa rata-rata orang yang hidup di negara berkembang menonton televisi sekurang-kurangnya 3 jam sehari. Mudah-mudahan statistik itu bikin kamu ketakutan. Aku nggak bilang bahwa nggak ada acara TV yang patut ditonton. Cuma, coba bayangkan hal-hal lain yang bisa kamu lakukan di waktu luangmu. Memang benar sih, TV bisa menginspirasi kita, tapi ke arah yang salah. Banyak acara yang menginspirasikan ketamakan, nafsu, ketakutan, dan kebencian. Jelas-jelas bukan jalan yang benar menuju kebahagiaan.

Kesalahan #10: Ambillah keputusan pas lagi emosi.
Orang yang nggak bahagia biasanya nggak puas pada keadaan mereka, yang seringkali adalah akibat dari pengambilan keputusan yang buruk. Saat kita merasa sedih, marah, takut, atau frustrasi, kita sedang berada pada kondisi mental dan emosional yang tidak tepat untuk mengambil keputusan. Seperti kita sadari, setiap keputusan memiliki konsekuensi. Jadi bilamana mungkin, tundalah sampai perasaan kita tenang dan emosi kita mereda sebelum mengambil keputusan.


Hati-hati, ya. Jangan melakukan kesalahan-kesalahan di atas selagi menggapai kebahagiaanmu. Dunia ini memercayakan dirinya pada orang-orang bahagia, karena merekalah yang mampu membuat perubahan ke arah yang lebih baik.


Diterjemahkan asal-jadi dari  
10 Mistakes Made in the Pursuit of Happiness
oleh Daniel Wong
Gambar dari Google

Sunday, April 29, 2012

Lima Penyesalan

Paulo Coelho membagikan cerita ini dalam blognya, dan mengingatkan saya bahwa hidup yang simpel adalah hidup yang dijalani sesuai dengan apa yang kita yakini.


Bertahun-tahun aku bekerja dalam sebuah pendampingan paliatif. Pasienku adalah orang-orang yang telah dinyatakan secara medis tak bisa disembuhkan dari penyakitnya. Aku berada di tengah-tengah mereka selama tiga sampai dua belas minggu terakhir dalam hidup mereka.

Ketika ditanya tentang penyesalan-penyesalan yang mereka rasakan, atau hal-hal yang ingin mereka ubah di masa lalu, beberapa jawaban umum selalu mengemuka. Inilah lima jawaban yang paling umum:

1. Aku menyesal tak punya cukup nyali untuk menjalani hidup sesuai dengan yang aku yakini, bukan hidup yang orang lain harapkan aku jalani.
Ketika orang menyadari bahwa hidup mereka hampir berakhir, dan menengok kembali ke belakang, sangatlah mudah untuk melihat betapa banyak impian yang berlalu tanpa dijadikan kenyataan. Kebanyakan orang harus meninggal dengan mengetahui bahwa semua ini terjadi karena pilihan yang telah mereka buat, atau yang tidak mereka buat. Pada saat kamu kehilangan kesehatanmu, semuanya sudah terlambat. Kesehatan memberikan sebuah kebebasan, yang jarang sekali kita sadari sampai kita kehilangannya.

2. Seandainya saja dulu aku tidak bekerja terlalu keras.
Penyesalan yang satu ini datang dari setiap pasien priaku. Seluruh pria yang kurawat merasa sangat menyesal telah melewatkan terlalu banyak waktu dalam hidup mereka untuk bekerja, dan mengabaikan hal-hal penting lainnya.

3. Aku menyesal tak punya keberanian untuk mengungkapkan perasaanku.
Banyak orang memendam perasaannya supaya tetap berdamai dengan orang lain. Akibatnya mereka menjalani hidup setengah-setengah, dan tidak pernah menjadi sesuatu yang sebenarnya mampu mereka capai. Padahal banyak penyakit yang berkembang akibaat kepahitan dan dendam yang mereka bawa-bawa seumur hidup mereka.

4. Aku menyesal telah kehilangan teman-temanku.
Seringkali orang tidak menyadari arti kawan-kawan lama sampai minggu-minggu terakhir dalam hidupnya, dan pada saat itu tidaklah mudah untuk melacak keberadaan orang-orang itu. Banyak orang begitu terperangkap dalam kehidupannya sendiri sampai-sampai membiarkan persahabatan yang indah memudar dan berlalu seiring berjalannya waktu. Ada penyesalan yang begitu dalam karena tidak memberikan cukup waktu dan perjuangan untuk mempertahankan persahabatan. Setiap orang selalu merindukan kehadiran teman-teman mereka ketika hidup mereka akan berakhir.

5. Seandainya saja dulu aku membiarkan diriku lebih berbahagia.
Ini suatu hal yang sangat mengejutkan. Banyak orang terlambat menyadari bahwa kebahagiaan adalah sebuah pilihan. Mereka semua terpaku pada rutinitas dan bertahan pada kebiasaan-kebiasaan lama, sesuatu yang disebut "kenyamanan" karena kebiasaan telah merasuki perasaan mereka, dan fisik mereka juga. Ketakutan akan perubahan membuat mereka berpura-pura pada orang lain, dan pada diri sendiri, bahwa mereka sudah cukup puas dengan apa yang ada. Di balik itu, sebenarnya mereka begitu mendambakan bisa tertawa lepas dan mendapatkan kembali keceriaan dalam hidup mereka.


Catatan penerjemah:
 Aku selalu sepakat dengan yang dikumandangkan lantang-lantang oleh Jon Bon Jovi dalam It's My Life, "I just wanna live while I'm alive."

Aku cuma kepingin hidup selagi masih hidup.


Diterjemahkan asal jadi dari "The Five Regrets"

Wednesday, April 25, 2012

Nggak Kenal

Pelatih bulu tangkis itu sedang menyemangati tim asuhannya.

"Apakah Rudy Hartono pernah menyerah?!" serunya kepada mereka.

"Tidak!!!" jawab timnya dengan kompak.

"Apakah Susi Susanti pernah menyerah?!" seru sang pelatih lagi, lebih keras.

"Tidaaak!!" timnya menjawab tak kalah kerasnya.

"Apakah Ismanto Sandjaja pernah menyerah?!" seru pelatih itu lagi.

Hening sejenak. Lalu salah seorang anggota timnya bertanya, "Siapa itu Ismanto Sandjaja?"

Sang pelatih tersenyum, dan menjawab, "Tentu saja kalian nggak kenal, karena dia menyerah."


Inspirasi dari buku "Jangan Mau Jadi Paku, Jadilah Palu!" suntingan Tama Sinulingga

Monday, April 23, 2012

Temukan "Aliran"-mu!

(Dari buku SIMPLIFY And Live the Good Life karya Bo Sanchez)


Berada dalam "aliran" berarti terserap secara tidak sadar. Pikirkan situasi saat dirimu begitu terjebak dalam sebuah aktivitas yang membuat pikiranmu tidak mengembara, yang membuatmu terlupa akan sekelilingmu, dan membuat waktu serasa terbang melayang.... --David Myers


Apakah kesamaan para pencapai yang hebat ini: Mozart, yang mengarang 600 komposisi musik; Thomas Alva Edison yang telah mematenkan 1.093 penemuan; dan Isaac Asimov yang menulis 475 buku? Mereka telah menemukan "aliran" mereka. Apa sih "aliran" itu? Lihatlah gambar di bawah.


Jika tantangan pekerjaanmu besar tapi keahlianmu tidak cukup tinggi, hasilnya adalah kecemasan. Inilah yang terjadi pada seorang salesman baru, yang pingsan setiap kali menghadapi klien. Dia harus segera berganti karier--mungkin menjadi petugas pemeriksa ketebalan kasur di sebuah pabrik dipan--atau segera membekali dirinya dengan pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan keahliannya dalam melakukan penjualan.

Jika tantangan pekerjaanmu kecil dan keahlianmu rendah juga, kamu akan mengalami apatisme. Contohnya adalah seorang akuntan yang tidak tahu bagaimana cara menggunakan kalkulator, tapi tidak merasa khawatir sedikit pun, karena dia bekerja di perusahaan milik ayahnya.

Jika tantangan pekerjaanmu rendah tapi keahlianmu tinggi, kamu akan terjebak dalam kebosanan. Seorang perajin dan tukang kayu yang memiliki kemampuan membangun rumah-rumah yang besar dan bagus akan mengalaminya jika dia bekerja di sebuah perusahaan pembuat peti mati.

Jika tantangan pekerjaanmu besar dan keahlianmu juga sepadan tingginya, maka kamu akan mendapatkan hasil yang terbaik: "aliran"-mu. Saat dirimu bekerja, waktu seolah tidak ada artinya. Kamu asyik dengan dirimu sendiri, kamu merasa seakan-akan terlahir untuk pekerjaanmu, dan jika kamu punya kesempatan untuk mengulang hidupmu kembali, kamu tetap akan memilih profesi yang sama.

Itulah "aliran"-mu. Temukan dia.


Nilailah pekerjaanmu saat ini. Apakah cukup memberimu tantangan? Dan apakah kamu punya cukup keahlian yang sepadan dengan tantangan itu? Jika kamu menemukan ketidaksepadanan, apa yang bisa kamu perbaiki?



(Gambar dari Mihaly Csikszentmihalyi dan Isabella Selega Csikszentmihalyi, "Optimal Experience: Psychological Studies of Flow of Consciousness", sebagaimana dikutip oleh David Myers dalam "The Pursuit of Happiness")
 

Sunday, April 22, 2012

Hubungkan Pekerjaanmu dengan Misi Hidupmu

(Dari buku SIMPLIFY And Live the Good Life karya Bo Sanchez)


Seorang temanku bekerja sebagai teknisi untuk sebuah pengelola gedung. Dia menghabiskan sebagian besar jam kerjanya dengan obeng-obeng, solder, dan palu-palunya. Tapi selepas jam lima sore, sebelum pulang ke rumah, dia selalu mengunjungi "sahabat-sahabat"-nya di sebuah kawasan kumuh di kota itu. Kapan pun dia melihat sekelompok anak jalanan, dia membeli sebongkah roti, duduk bersama mereka di kakilima, lalu bercanda dan bercakap-cakap tentang kehidupan sambil mengudap roti.

Dia memiliki hasrat untuk membantu anak-anak jalanan, sebuah hasrat untuk melihat mereka tumbuh menjadi manusia yang lebih baik daripada kondisi mereka saat ini. Tak perlu waktu yang terlalu lama buat dia untuk menyadari bahwa inilah misi hidupnya. Bisakah dia membuatnya sebagai pekerjaan juga?

Jawabannya adalah ya. Tak lama setelahnya, dia mengundurkan diri dari pekerjaannya. Saat ini, bersama dengan istrinya, temanku menghidupi tujuh belas anak jalanan dalam rumah mereka setiap hari. Dan dengan keahliannya membuat barang-barang, dia membantu mereka belajar banyak keahlian baru juga. Dia menulis sendiri surat-surat penggalangan dana, mendapatkan banyak dukungan dari pribadi-pribadi yang dermawan, dan membantu anak-anak ini bersekolah. Sama seperti buat semua orang lain di dunia ini, buatnya hidup pun kadang-kadang terasa berat. Ada saat-saat ketika keuangan mereka ada di bawah, tapi tidak sedikit pun dia menyesali keputusannya, karena dia menjalankan misi hidupnya.

Aku punya satu orang teman lagi. Profesinya adalah seorang perawat, tapi dia begitu mencintai musik sampai-sampai dia tidur dan terbangun setiap hari dengan keyboard synthesizer dalam pelukannya. Dia merasa bahwa misi hidupnya adalah bermusik dan mengisi jiwa-jiwa sesamanya dengan melodi Tuhan. Solusinya? Dia memutuskan untuk bekerja sebagai perawat pribadi--yang tidak bekerja di rumah sakit--yang bisa memberinya kebebasan untuk bekerja paro waktu sebagai seorang pemusik dalam sebuah organisasi keagamaan, dan bahkan juga untuk mendapatkan sedikit keuntungan dalam bisnis entertainment.

Aku percaya bahwa kita semua diciptakan untuk suatu misi, dan misi itu sudah diperisiapkan untuk kita sebelumnya. Dia cuma sedang menunggu untuk kita jalankan dan kita selesaikian!

Jika kita bisa menghubungkan misi kita dengan pekerjaan kita, kita bisa menjadi orang yang paling berbahagia di planet ini.


Apakah misi hidupmu? Temukan karunia-karunia yang telah diberikan oleh kehidupan padamu. Pikirkanlah bagaimana keahlian dan talenta-talenta itu bisa memberikan sumbangan untuk sebuah dunia yang lebih baik. Pikirkanlah bagaimana mereka bisa membantumu mengangkat kualitas hidup orang banyak. Dan, yang terpenting, pikirkanlah cara-cara untuk mengubahnya menjadi pekerjaanmu.


 Gambar dari Google.

Kerjakan Hal Yang Kamu Sukai, dan Dapatkan Uang Darinya!

(Dari buku SIMPLIFY And Live the Good Life karya Bo Sanchez)

 
Takkan ada kenikmatan hidup tanpa kenikmatan bekerja.—Thomas Aquinas


Kita menghabiskan 60% dari waktu kita (di luar saat tidur) untuk pekerjaan kita. Jadi, kalau kita tidak bisa berbahagia karena pekerjaan kita, artinya 60% hidup kita tidak bahagia!

Untuk membuat hidup kita simpel, kita harus menemukan hal-hal yang kita sukai untuk kita kerjakan, dan mendapatkan uang dari hal-hal tersebut. Kita perlu menemukan “hasrat” kita, dan menghubungkannya dengan pekerjaan kita.

Sebagai seorang penulis, riset-risetku menuntutku membaca ratusan buku dalam setahun. Tapi aku tidak merasakannya sebagai beban, karena aku suka membaca. Bahkan jika pekerjaanku bukan penulis pun, aku tetap akan membaca buku sebanyak itu, karena aku sangat menyukainya. Jangan tertawa, ya… tapi fantasi favoritku adalah menjadi seorang petugas keamanan yang ditugaskan menjaga sebuah pulau terpencil—jadi tidak ada yang bisa aku lakukan kecuali membaca sepanjang hari…

Aku ingat pernah menelepon direktur keuangan kami pada jam sepuluh pagi. Aku bertanya, “Apakah aku mengganggumu sekarang?” Dan dia menjawab, “Becanda kamu, Bo. Aku lagi nyantai sekarang.”

“Nonton TV?” tanyaku lagi, menyelidik.

Nggak, lah…. Aku sedang memeriksa laporan-laporan keuangan organisasi kita.”

Aku nyaris jatuh terduduk di kursiku. “Begitu kaubilang nyantai?”

Dia mengiyakan. Dia merasa benar-benar bahagia dan hidup saat memegang pensil, kalkulator, dan terbenam dalam bertumpuk-tumpuk kertas berisi angka-angka—dan tidak ada yang lain kecuali angka-angka. Inilah “hasrat”-nya, dan adalah sebuah keistimewaan baginya bahwa inilah mata pencahariannya. Tapi aku yakin, seandainya pun dia tidak dibayar, dia akan tetap mau melakukannya.

Lebih dari itu, membuat “hasrat”-mu sebagai pekerjaanmu tidak saja menyenangkan. Bisa jadi inilah cara terbaikmu untuk mencukupi kebutuhanmu dan mendapatkan kelebihannya untuk dibagikan kepada orang lain.

Menurut sebuah studi tentang para miliarder, mayoritas dari mereka menjadi kaya raya bukan karena memiliki suatu ambisi yang besar untuk menjadi kaya, melainkan karena mereka menemukan pekerjaan yang benar-benar mereka cintai dari dalam hati mereka. “Keberuntungan” mereka secara finansial datang dari pengabdian mereka sepenuh hati pada suatu bidang yang benar-benar mereka nikmati. Semesta hormat kepada mereka yang yakin bahwa mereka ada di tempat yang tepat melakukan sesuatu yang tepat….
--Allan Loy Mcginnis, The Balanced Life

Kerjakan hal-hal yang kamu sukai, dan dapatkan uang darinya.


Gambar dari Google.