Monday, April 30, 2012

10 Kesalahan dalam Menggapai Kebahagiaan

Lagi, dari Daniel Wong, inspirator muda yang blognya--Living Large--telah membantu banyak pelajar, pengajar, dan orang tua untuk memaksimalkan pendidikan, karier, dan kehidupan mereka.


Baru-baru ini aku keluar makan siang bareng empat orang teman.

Obrolan kami pun sampai pada topik berita terpanas hari itu: seorang pria sukses dan terkenal mundur dari jabatan pentingnya pas umurnya masih 40-an. Dia nggak pernah menjelaskan ke media kenapa dia mundur.

Teman-temanku mulai melontarkan dugaan-dugaan mereka tentang alasan mundurnya bapak itu.

"Pasti ada praktik pencucian uang di belakang semua ini!"

"Atau dia ketahuan terlibat sebuah affair."

"Yang jelas aku yakin ada sebuah skandal besar yang belum terkuak di sini."

Sebagai orang yang selalu memandang hal-hal baik dalam diri orang lain (dan juga seorang idealis dari hati!), aku menawarkan sebuah kemungkinan lain, "Mungkin dia mundur dari jabatannya untuk mengejar impiannya."

Tanggapan seia-sekata dari teman-temanku sungguh tak terlupakan!

"Impian? Impian apa lagi? Orang itu ya, kalau umurnya udah 40-an, udah nggak punya impian apa-apa lagi!"

Orang yang sudah berusia 40 tahun nggak punya impian apa-apa lagi.

Bener nggak, sih?!


-------

Obrolan makan siang itu membuat aku merenung tentang apa artinya mengejar impian. Atau lebih luas lagi, aku jadi merenung tentang apa artinya menggapai kebahagiaan. 

Biar lebih jelas, kalau aku membahas tentang kebahagiaan, aku nggak membicarakan tentang sebuah perasaan yang temporer. Aku mengacu pada sesuatu yang kamu alami pada tingkat yang jauh lebih dalam, bahkan ketika kamu nggak merasa ceria. Aku berbicara tentang kepuasan jangka panjang.
Berdasarkan definisi kebahagiaan itu, aku perhatikan bahwa kebanyakan orang yang aku jumpai tidak merasa bahagia. Aku sih bukan pakar kebahagiaan, tapi aku mencermati beberapa kesalahan yang dibuat orang-orang dalam perjuangan mereka menggapai kebahagiaan, kesalahan-kesalahan yang mengakibatkan mereka tidak merasa bahagia.

Ini dia daftarku:

Kesalahan #1: Berhentilah mengejar impianmu.
Aku nggak secara idealis bilang bahwa setiap saat adalah waktu yang tepat untuk mengejar impian. Kita semua punya tanggung jawab dan kewajiban yang harus kita penuhi. Tapi itu juga nggak berarti bahwa kita harus menyerah dan melupakan impian kita. Bagaimana pun juga, impianlah yang membuat kita punya semangat hidup. Bahkan jika impian masa kecil kita sudah mati, nggak pernah ada kata terlambat untuk mengimpikan sebuah impian baru.

Kesalahan #2: Abaikan orang-orang terdekatmu.
Pada titik tertentu, kita semua sebenarnya sadar bahwa inti kehidupan itu adalah membangun hubungan. Toh karena kesibukan, dengan mudah kita mengabaikan hubungan-hubungan yang paling berarti dalam kehidupan kita. Mari kita ingat-ingat bahwa melakukan ini adalah jalan yang pasti berujung pada ketidakbahagiaan.


Kesalahan #3: Jangan ambil tanggung jawab penuh atas kehidupanmu.
Bertanggung jawab penuh atas kehidupan kita bukan berarti bahwa kita bisa mengendalikan segala hal yang terjadi pada kita, karena nyata-nyata kita nggak bisa melakukannya. Bertanggung jawab penuh atas kehidupan kita berarti bahwa kita menyadari kekuatan kita untuk mengendalikan sikap kita dalam situasi apa pun, nggak peduli seberapa nggak adil atau buruknya kejadian yang kita alami. Ini juga berarti bahwa kita nggak menyalahkan orang lain atas perasaan atau kekecewaan yang kita alami.

Kesalahan #4: Puaskan semua orang.
Kita nggak mungkin jadi segala-galanya bagi semua orang, jadi jangan coba-coba melakukannya. Kemungkinan kegagalannya seratus persen, bahkan kalaupun kita berusaha sekuat tenaga.

Kesalahan #5: Katakan "ya" terlalu sering.
Dalam Good to Great, filsuf bisnis Jim Collins mengamati bahwa musuh "hebat" itu bukannya "buruk". Musuh "hebat" itu "baik". Hampir selalu, keputusan yang buruk sudah memperlihatkan keburukannya dari awal, sehingga kita sama sekali nggak tertarik mengambilnya. Keputusan-keputusan yang baik--hal-hal yang menguntungkan untuk jangka pendek tapi merugikan untuk jangka panjang--inilah yang seringkali mengalihkan perhatian kita saat seharusnya kita mengambil keputusan yang hebat. Kalau kita ingin kebahagiaan, kita perlu dengan sengaja mengorbankan hal-hal menyenangkan yang sifatnya sementara, demi memperoleh hanya yang terbaik. Kita harus bisa mengatakan "tidak" pada semua hal yang baik dan "ya" hanya pada hal-hal yang hebat.

Kesalahan #6: Jangan menerima dirimu apa adanya.
Komitmen untuk terus memperbaiki diri sendiri memang harus terus kita pegang, tapi pada saat yang sama kita juga harus bisa menerima diri kita sendiri apa adanya--talenta, kekuatan, kelemahan, kesalahan, apa pun juga. Kalau kita nggak bisa menerima diri kita apa adanya, akibatnya kita akan punya rasa percaya diri yang rendah dan dihantui rasa inferioritas Gimana mau bahagia kalau minder akut?

Kesalahan #7: Teruslah hidup di masa lalu atau masa depan.
Ternyata hidup di masa lalu itu cukup menggoda, dengan segala penyesalan, kegagalan, dan kesedihan kita. Hidup di masa depan sama menariknya, dengan segala kekhawatiran, ketakutan, dan harap-harap cemas kita. Toh kita harus selalu mengingatkan diri kita untuk hidup sepenuhnya di masa sekarang, karena hanya di masa sekarang inilah kita bisa mengambil tindakan nyata dan menciptakan kesuksesan yang sesungguhnya dalam hidup kita.

Kesalahan #8: Mengeluh aja terus.
Kalau kamu mengeluh, kamu nggak bakalan maju. Satu-satunya tujuan mengeluh adalah untuk membenarkan perasaan-perasaan negatif dan marah yang kamu rasakan. Padahal kita tahu, semakin marah semakin jauh kita dari perasaan bahagia.

Kesalahan #9: Tonton TV banyak-banyak.
Survey menunjukkan bahwa rata-rata orang yang hidup di negara berkembang menonton televisi sekurang-kurangnya 3 jam sehari. Mudah-mudahan statistik itu bikin kamu ketakutan. Aku nggak bilang bahwa nggak ada acara TV yang patut ditonton. Cuma, coba bayangkan hal-hal lain yang bisa kamu lakukan di waktu luangmu. Memang benar sih, TV bisa menginspirasi kita, tapi ke arah yang salah. Banyak acara yang menginspirasikan ketamakan, nafsu, ketakutan, dan kebencian. Jelas-jelas bukan jalan yang benar menuju kebahagiaan.

Kesalahan #10: Ambillah keputusan pas lagi emosi.
Orang yang nggak bahagia biasanya nggak puas pada keadaan mereka, yang seringkali adalah akibat dari pengambilan keputusan yang buruk. Saat kita merasa sedih, marah, takut, atau frustrasi, kita sedang berada pada kondisi mental dan emosional yang tidak tepat untuk mengambil keputusan. Seperti kita sadari, setiap keputusan memiliki konsekuensi. Jadi bilamana mungkin, tundalah sampai perasaan kita tenang dan emosi kita mereda sebelum mengambil keputusan.


Hati-hati, ya. Jangan melakukan kesalahan-kesalahan di atas selagi menggapai kebahagiaanmu. Dunia ini memercayakan dirinya pada orang-orang bahagia, karena merekalah yang mampu membuat perubahan ke arah yang lebih baik.


Diterjemahkan asal-jadi dari  
10 Mistakes Made in the Pursuit of Happiness
oleh Daniel Wong
Gambar dari Google

No comments:

Post a Comment